Merekalah yang Paling Tahu Bagaimana Caranya Memproduksi Revolusi

PDP

Ditulis oleh : Saiful Haq (Pengamat Politik)

Tanggapan Untuk Laporan Aboeprijadi Santoso

Laporan Aboeprijadi Santoso yang berjudul “Bioskop Merosot, Apa Jadinya Generasi Kota Mendatang?” menggelitik saya untuk menuliskan beberapa tanggapan. Saya sepenuhnya sepakat, bahwa monopoli dan kartel yang mewarnai industri film tanah air merupakan sebuah gurita yang membelit kreativitas dan daya hidup film nasional, namun peran mereka juga tidak kecil dalam mempromosikan film, kritik kita setidaknya diarahkan pada masalah kebijakan pemerintah yang mebuat monopoli bisa terjadi. Saya juga sepakat bahwa Lembaga Sensor Film (LSF) itu sebaiknya dibubarkan saja, LSF justru seringkali memberangus nilai yang ingin disampaikan oleh sebuah film, lihat saja pelarangan tayang beberapa film tentang Timor Leste JiFest tahun lalu. Namun ketika reportase bung Aboeprijadi masuk lebih dalam, saya membacanya justru pernyataan Budi Irawanto yang dikutip bung Aboeprijadi cenderung malah mengesampingkan fakta empirik tentang peningkatan jumlah penonton untuk film nasional di Bioskop, belum lagi ketika Budi menuding balik generasi muda sekarang sebagai “generasi mall”.

Kutipan dari reportase itu seperti ini “Peranannya (bioskop) digusur oleh pusat-pusat belanja dan hiburan mewah, yaitu mall-mall, yang mencetak generasi muda sebagai konsumen kapitalisme jasa hiburan yang dangkal dan apolitis. Nah, inikah gambaran generasi mendatang menjelang pemilu 2009?………………Jadi, selamat datang generasi konsumen”

Saya hanya ingin memberikan pandangan lain mengenai laporan itu.

Terlepas dari “mencerahkan” atau tidaknya film Indonesia dari sudut muatan pesan nilai yang disampaikannya, saya pikir pendapat bahwa “film Indonesia” makin merosot merupakan pendapat yang terlalu dini dan cenderung menyederhanakan masalah. Baru-baru ini film “Ayat-ayat cinta” yang diangkat dari buku Habiburrahman itu meledak di bioskop-bioskop, sejenak film Hollywood dan Bollywood jadi kehilangan gemanya, dalam tiga minggu film ini ditonton hampir 3 juta penonton di Indonesia. Terlepas dari berbagai kontroversi mengenai tema dan pesan religius yg dipaksakan, namun hal ini menjadi catatan penting, bahwa filmIndonesia belum kehilangan taringnya.

Kita juga pasti belum lupa dengan booming film Mira Lesmana berjudul Ada Apa Dengan Cinta (AADC) yang melambungkan nama Dian Sastro dan Nicolas Saputra. Film ini didaulat sebagai momentum kembalinya film Indonesia, utk menjadi tuan di negerinya sendiri. Dibelakangnya berderet nama film lainnya, Novel Tanpa Huru R, Biola Tak Berdawai, Pasir Berbisik, Brownies dll. Kita tidak bisa mengabaikan ukiran tangan Garin Nugroho yang juga tetap tegar membuka jalan film Indonesia.

Saya sepakat, kita masih punya kendala besar dalam sistem industri dan orientasi pasar film. Namun ini hendaknya tidak mengabaikan prestasi yang telah diukir sineas-sineas muda Indonesia, seperti Riri Reza dan Mira Lesmana. Mereka telah memulai sesuatu yang sangat penting dalam meletakkan pondasi baru bangunan film Indonesia. Sebelumnya selama berpuluh-puluh tahun kita tidak pernah membayangkan bahwa kita akan menonton lagi film-film Indonesia sekelas karya Usmar Ismail atau Wim Umboh, kita tidak pernah membayangkan bahwa ternyata film-film baru itu mampu menyeret anak muda indonesia untuk menonton film2 Indonesia. Tahun-tahun kegelapan itu hanya diisi oleh film-film propaganda orde baru, seperti G30SPKI, Serangan Umum 11 Maret, atau film-film cabul tahun 80an, atau film silat plus bumbu-bumbu vulgar. Jaman itu telah lewat ditangan sineas-sineas muda ini. Ini adalah gairah baru yang perlu dihitung, tidak sekedar “Gairah Ranjang Pengantin” dll.

Bicara tentang masalah nilai, generasi baru perfilman Indonesia juga tidak kalah sengitnya dengan generasi lama, film seperti Jangan Panggil Aku Cina, Marsinah, Gie, Untuk Rena, Naga Bonar Jadi 2 dll, juga memiliki idealisme yang sangat kontekstual dengan keadaan tanah air. Dan jangan lupa, kebangkitan film dokumenter Indonesia, film dokumenter era baru ini yang menurut saya lebih bergairah dan canggih dibanding generasi sebelumnya. Lihat saja film-film dokumenter seperti Mass Grave, Batas Panggung dll karya Off Stream yg dimotori Lexy Rambadetta dkk. Atau para pembuat film dokumenter dari latar belakang sosial dan ekonomi yang berbeda. Film-film karya Off Stream sudah beberapa kali menang dan diputar dalam berbagai festival film internasional. Film “Suster Apung” karya sineas pendatang baru Andi Arfan Sabran juga mengantar Metro TV untuk menang di tingkat Asia. Mereka semua sedang tumbuh, dan berkembang. Mereka bangkit bukan dalam ruang kosong, mereka bangkit dari kegelisahan dan semangat yang memiliki nyalanya sendiri.

Bicara dalam konteks kapitalisme industri pefilman, film-film dokumenter ini lahir dari ruang-ruang independen, lepas dari segala tetek bengek industri, bahkan beberapa film-film ini mencantumkan sebuah tulisan yang sangat menarik di belakang covernya “wajib dibajak dan disebarkan”…. lalu pertanyaannya, pernahkah perfilman Indonesia mencapai GAIRAHnya seperti sekarang??

Masalah merosotnya penonton film di Bioskop, saya pikir ini penting untuk dikaji lebih dalam, saya sepenuhnya tidak sepakat dengan monopoli Studio 21, XXI, Blitz Megaplex atau EX…. ini lah inti masalah yang harus dipecahkan. Saya agak sulit menemukan relasi yang kuat antara “menurunnya penonton di bioskop” dengan “merosotnya film Indonesia”…. saya pikir penonton di Indonesia sudah lebih kritis, mereka menonton film yang dianggapnya bagus, banyak juga film-film hollywood yang bernasib lebih parah daripada film-film Indonesia, sepi penonton.

Kalau untuk konsumsi penonton yang lebih kritis, mungkin perkembangan ini terasa begitu lambat, namun ini semua butuh proses, setelah keterpurukan dibawah rejim Soeharto. Namun ruang-ruang itupun semakin banyak. Cobalah lihat semakin ramainya diskusi-diskusi film digelar diberbagai sudut kota, kampus dan komunitas. Atau cobalah memesan tiket JiFest satu hari sebelum pemutaran film, pasti sulit mendapatkan tiketnya. Yang ingin saya katakan adalah, film Indonesia sedang bergairah, buka cuma dalam kuantitas jumlah produksi dan jumlah penonton, tapi juga nilai yang dibawanya, komunitasnya dan inspirasinya semakin menggigit.

Kalau melihat perkembangan film dan musik tanah air, justru tahun-tahun ini merupakan tahun keemasan menurut saya.Lihatlah ketika anak-anak muda Malaysia lebih gandrung film Indoensia seperti AADC, Heart dll ketimbang film Malaysia. Lihat pula bagaimana generasi muda Malaysia lebih akrab dengan lagu-lagu Krisdayanti, Melly, Dewa, Slank atau PeterPan ketimbang musik Malaysia sendiri. Ini momentum keeemasan.

Generasi muda ke depan? saya pikir terlalu dini untuk mengatakan mereka lebih mundur ketimbang generasi pendahulunya. Mungkin mereka konsumtif, tapi saya kok masih percaya bahwa, gerak sejarah sedang memproduksi orang-orang muda yang punya warnanya sendiri, punya idealismenya sendiri, dan mengemban nilai Kebenaran yang diciptakannya sendiri. Mengukur idealisme generasi muda sekarang, tidak cukup dengan kehadiran mereka di Bioskop, tapi lihatlah bagaimana internet dipenuhi dengan karya-karya anak muda, lebih menggigit dengan warnanya sendiri. Dan yang paling penting merekalah yang paling tahu, dunia seperti apa yang sedang mereka hadapi. Janganlah kita bersikap “tidak sabar” lalu tidak percaya, mereka tahu dan cukup mengerti bagaimana cara memproduksi revolusi.**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s