2 dari 3 Film Dokumenter : Hasil Workshop

The_Fish_Market_4_post

Ditulis oleh : Tonny Trimarsanto  (Sutradara film dokumenter)

“Potere”, bagi saya adalah sebuah film yang menarik, dari Festival Film Dokumenter 2009 lalu. Film karya Arfan Sabran dari Makasar ini, mencoba menyuguhkan sebuah desain film dokumenter yang tidak biasa. Tema yang disodorkan sehari hari. Tentang dua orang anak yang mempunyai mimpi yang berbeda. Mereka sama sama bekerja di pasar ikan dekan pantai. Satu anak punya mimpi ingin menjadi pemain bola, dengan membeli sepatu. Anak yang lain, ingin bisa memakai baju koko saat lebaran. Kisah yang sederhana.


Ada lagi, film “Gorila dari Gang Buntu”. Film karya Teguh Budi dari Semarang. Menjadi menarik, lucu, komikal namun satir. Yakni merekam mimpi para pekerja perkotaan tentang definisi tubuh laki laki. Tubuh yang kekar dan berotot. Film ini tidak masuk menyodorkan imajinasi ruang fitness ber-AC yang isinya karyawan kelas menengah perkotaan yang ingin tampil dengan tubuh atletis dan menarik Justru yang disodorkan adalah adanya perlengkapan fitneas yang dikelola secara tradisional, dengan alat sederhana bikinan seorang tukang las jalanan, tidak ada tariff sewa dan siapapun bisa mengakses.
Dua film ini menjadi unik. Mungkin juga membuat banyak penikmat film kaget. Namun, jujur kesan kekaguman itu menjadi cair setelah mengetahui bahwa dua film itu hasil sebuah pelatihan, workshop film dokumenter. Yang menjadi perdebatan panjang adalah, persoalan identitas dan keutuhan karya film. Sebab, sanggahan dan perdebatannya makin panjang dan kompleks tentang dokumenter Indonesia itu sendiri. Catatannya adalah film menarik, yang lahir dari sebuah workshop.
Lalu, adakah yang salah dengan workshop film dokumenter ?

***
Saya melihat bahwa, film dokumenter di Indonesia telah mencatat jumlah yang tinggi dibandingkan dengan sepuluh tahun yang lalu. Film dokumenter menjadi satu medium yang mulai diakrabi oleh siapapun. Tetapi, ini bukan persoalan popularitas yang pada akhirnya bisa disandingkan dengan film layer lebar tentunya –film fiksi. Yang paling menarik adalah, lebih kurang 70% film film dokumenter Indonesia dihasilkan dari ruang kelas, ruang workshop.
Terungkap bahwa, dalam sepuluh tahun terakhir, banyak lembaga-lembaga yang mulai memfasilitasi workshop film dokumenter. Penyelenggara workshop adalah lembaga ataupun komunitas film. Pesertanya juga beragam. Setidaknya ada lembaga In-Docs (Indonesian Documentary), LKIS, Kampung Halaman, stasiun televisi Metro TV, forum LSM lokal ataupun yang tingkat nasional. Bahkan yang menarik, masuknya donor asing, kedutaan besar Negara asing yang ada di Indonesia, yang secara langsung bisa memfasilitasi program workshop. Singkatnya, siapapun bisa mengadakan dan membuat program workshop sejauh ada : dana, tempat dan peserta. Soal materi, modul dan ideology, itu soal nanti.
Setidaknya ada beberapa hal yang bisa dicatat. Pertama, workshop telah mendorong pertumbuhan jumlah. Baik jumlah film yang dihasilkan ataupun mengangkan nama nama baru pembuat film. Sekadar contoh, lebih dari lima tahun stasiun Metro TV membuat workshop film dokumenter Eagle Award. Setiap tahun ada 10 nama sutradara baru yang dihasilkan. Ini baru satu lembaga. Belum lagi, lembaga lembaga ataupun LSM yang setiap tahun dapat melakukan lebih dari satu kegiatan workshop. Atau yang lebih menarik adalah, komunitas komunitas film tingkap kabupaten, telah mampu memfasilitasi pelatihan pembuatan film dokumenter. Bukankah ini menakjubkan ?
Kedua, pelatihan pembuatan film dokumenter tengah menuju ke arah formalisasi. Artinya, jika anda ingin menjadi pembuat film dokumenter, workshop adalah jalan yang tepat. Sebab, jalur workshop telah membuka jejaring baru, akses baru dengan mereka mereka yang ada di dunia film dokumenter. Setidaknya ada asumsi bahwa, melalui satu pelatihan ini, menjadi jaminan pada karya karya selanjutnya. Tetapi, faktnya tidak demikian. Tak banyak lulusan “akademi” workshop yang akhirnya benar benar menjadi pembuat film dokumenter.
Ketiga, workshop film adalah sebuah program yang seksi untuk dijual. Film adalah media baru. Sehingga, banyak lembaga yang tertarik untuk menggunakan film sebagai media dalam definisi apapun. Alhasil, banyak lembaga yang mengadakan workshop. Arahnya, booming workshop. Isu apapun dicoba dikait-kaitkan dengan media film. Fungsional atau tidak, yang penting menjadi program.
Maka, lantaran booming, terdapat indikasi bahwa beberapa lembaga mulai mencoba lebih selektif dalam memilih calon peserta workshop. Ada kualifikasi tertentu. Ini tidak mudah. Lantaran peserta yang lebih terseleksi, maka yang menjadi peserta workshop adalah, mereka mereka yang pernah mengikuti workshop dari lembaga lain. Dengan kata lain, peserta-nya sama, lembaga penyelenggaranya yang berbeda. Jadi peserta sudah saling mengenal, hanya tema dan isu film yang dikerjakan menjadi berbeda. Lantaran, lembaga penyelenggaranya adalah dari lembaga yang berbeda pula.

***
Memang, ada aspek positif. Pengenalan ketrampilan membuat film dokumenter sudah dimulai sejak awal. Tentu ini akan sangat menggembirakan. Upaya untuk memfasilitasi produksi bisa terukur. Menjadi nyaman untuk sebuah proses pertumbuhan. Bisa jadi, persoalannya bukan hanya sekadar tingkat kenyamanan tumbuh yang sudah terfasilitasi. Yang lebih menarik adalah, bagaimana mengukur film dokumenter sebagai sebuah karya. Faktanya, 2 dari 3 film dokumenter Indonesia yang berhasil masuk kompetisi festival film dokumenter, adalah hasil workshop.

Saya ingat, percakapan dengan Mariana Yarosvkaya. Seorang sutradara kelahiran Rusia yang kini bermukim di Amerika. Ia sempat kagum dengan jumlah pertumbuhan film dokumenter di Indonesia. Jumlah yang luar biasa, dengan tema yang menurutnya beragam dan menakjubkan. “Teman teman di sini sangat mapan, jadi bisa membuat film apa saja”, ungkapnya. Tetapi satu hal yang tidak dia tahu adalah, banyak film dokumenter itu hasil dari workshop. Dimana peserta mendaftar, terseleksi dan datang dengan idenya. Soal uang produksi dari mana tak jadi soal. Soal film itu karya siapakah sesungguhnya, yang berhak mengaku bukan hal yang layak untuk diperdebatkan.
Kemudian Mariana Yarosvkaya mengungkapkan, ingin ke China untuk produksi film terbarunya. Wah, sangat mapan sutradara ini, pikir saya. Namun, dugaan saya meleset. Ia bertanya, “ Anda bisa membantu mencarikan dana untuk film saya di Indonesia ?” Saya kaget, sutradara sekelasnya yang sudah meraih penghargaan internasional masih dibuat bingung dengan persoalan dana produksi filmnya.
Saya-pun sadar, mungkin workshop menjadi jalan untuk bisa membuat film. Lebih mudah mengerjakannya. Anda punya ide silahkan mendaftar, asal, ide itu sesuai dengan tema besar penyelenggara workshop. Bukankah demikian faktanya ? *******

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s