Oleh Amalia Sekarjati di Film Indonesia

Enam film dari Jakarta, Palu, Makassar, dan Surabaya mengisi acara tahunan Boemboe Forum, yang diselenggarakan oleh Boemboe bekerja sama dengan Klub Kajian Film IKJ dan Kineforum Dewan Kesenian Jakarta, Sabtu 9 Juli 2011 pukul 11.00–21.00 di Fakultas Film dan TV (FFTV) IKJ dan Kineforum TIM, Jakarta. Boemboe Forum adalah sebuah kegiatan presentasi, pemutaran, dan diskusi film-film pendek. Acara ini memasuki tahun ke-8.

Enam film tersebut adalah Dunia Sempit(Billy Christian, Jakarta), Mampus 2: Hilang(Jaka Wiradinata, Surabaya), Paotere (Andi Arfan Sabran, Makassar), Fullan (Eldiansyah Ancha Latief, Palu), Cuma 5 Ribu (Yusuf Radjamuda, Palu), dan Mamalia (Tumpal Tampubolon, Jakarta). “Film-film ini dipilih dari hasil yang kita dapat setahun ke belakang. Lihat film itu di mana, menemukan filmnya di mana, dapat kiriman dari mana. Namun, sebenarnya yang kita pilih orangnya, yang kita tahu dia aktif di komunitasnya. Yang kita harapkan, kedatangannya ke sini membuat dia dapat sesuatu, lalu disebarkan lagi ke lingkungannya.” ujar Lulu Ratna dari Boemboe.

Read the rest of this entry »

PAOTERE

Posted: July 11, 2011 in Artikel Sahabat
 

PAOTERE, Andi Arfan Sabran,16 menit, 2009, dokumenter, Makassar

oleh Veronica Kusuma (Klub Kajian Film IKJ)

Paotere adalah salah satu dokumenter pendek yang paling saya sukai. Memotret sebuah pasar ikan di Makassar, dokumenter ini merupakan hasil sebuah lokakarya film yang dibimbing oleh seorang pembuat film kenamaan, Leonard Retel Helmrich. Film ini mencoba mengeksplorasi gerak kamera, dengan penggambilan gambar tunggal (single shot), yang telah tampak dalam film-film neorealisme Italia. Gerak kamera tunggal seperti ini telah digunakan oleh Leonard Retel Helmrich untuk menggambarkan kompleksitas interaksi manusia dalam trilogi film tentang Indonesia, Eye of the Day, Shape of the Moon dan Position Among the Stars. Bukan kebetulan bahwa film-film Leonard telah memenangkan berbagai penghargaan prestisius dokumenter.

Andi Arfan Sabran bukanlah nama baru dalam bidang dokumenter. Ia telah membuat documenter pendek sebelumnya, contohnya Suster Apung (2006) yang memenangkan penghargaan sebagai film terbaik Eagle Awards. Kegemarannya pada persoalan-persoalan dan subyek lokal di Sulawesi Selatan membuatnya menduduki posisi yang khas, karena masih jaranglah pembuat film dari Sulawesi masuk lingkaran film di Indonesia yang terpusat di Jakarta. Film Paotere mengetengahkan dua hal menarik dalam kecenderungan dokumenter, pertama, studi antropologi atas sebuah pasar ikan dan kedua, eksperimentasi teknis dalam cara bertutur dokumenter.

Read the rest of this entry »

Retrospektif oleh Makbul Mubarak dalam “Catatan Kecil Dari Boemboe Forum Meeting Point 2011″ 
 

paotere, jiffest, dokumenter, arfan, anak, pekerja anakPaotere, diambil dari nama sebuah pelabuhan perahu di Makassar, adalah satu dari sangat sedikit eksperimentasi direct cinema dalam jagad film dokumenter Indonesia. Tradisi direct cinema, meskipun seringkali dicampur-adukkan dengan konsep cinema verité, adalah sebuah tradisi yang kuat dan telah luas dianut. Salah satu pemanggulnya adalah sineas Frederick Wiseman, yang premis-premisnya diwarisi oleh para pembuat dokumenter baru (New Documentary Movement) dari China seperti Wang Bing dan Lixin Fan. Wang Bing biasanya merelakan durasi filmnya membengkak menjadi sembilan jam demi agar prinsip-prinsip direct cinema itu bisa diterapkan secara utuh.

Dalam Paotere, kamera ditempatkan pada level pandang anak-anak untuk memotret dua orang yang diikuti kehidupannya selama dua bulan: Reza dan Arfah yang sehari-hari bekerja di pasar ikan. Mereka menabung demi cita-cita, membeli sepatu bola dan baju koko. Ada penekanan dramatis yang sangat fungsional meskipun film ini tak menggunakan wawancara. Pertama kali, Reza dan Arfah menyambangi pasar untuk membeli baju koko namun uang mereka belum cukup. Impian mereka tertambat pada celengan tanah liat yang harus segera ditambah isinya demi mewujudkan impian, itulah muasal konfliknya. Ketika sedang giat-giatnya, heroisme anak-anak Reza terusik ketika Bom Kuningan meletus dan kesebelasan Idolanya, Manchester United, gagal bertandang ke Jakarta.

Read the rest of this entry »

Listrik akhir-akhir ini menjadi momok di masyarakat perkotaan karena persoalan krisis energi sehingga PLN harus melakukan pemadaman bergilir pada hampir merata di banyak tempt.
Tapi ini berbeda dengan yang terkadi di pedalaman pegunungan Mamasa. Ada satu desa bernama Desa Batang Uru justru tidak mengalami pemadaman listrik bergilir karena mereka justru telah mampu mengelolah energi mereka sendiri sehingga desa tersebut berhasil mandiri energi.
Desa itu kemudian direkam dalam media film dokumenter berujudul “Cahaya Air Batang Uru” yang disutradarai oleh Arfan Sabran.
Pada tanggal 10 April nanti film tersebut akan diputar di BaKTI dalam acara CINEMATICA. Dalam kegiatan tersebut akan diselenggarakan diskusi perihal listrik dan krisis energi.

Apa itu Tuhan?

Posted: April 30, 2010 in Referensi Film

oh my god, posterApa pandangan orang-orang Muslim, Kristen, Hindu, bahkan Atheis tentang Tuhan? Inilah sebuah film dokumenter yang merekam pandangan David CopperfieldDr. John DeMartiniBob Geldof,Hugh JackmanBaz LuhrmannHugh JackmanRingo StarrSeal, dan beberapa celebriti dunia dan masyarakat di beberapa negara perihal pandangan mereka tentang Tuhan. Sutradara Peter Rodger sengaja mendatangi 24 negara hanya untuk menanyakan satu pertanyaan sederhana “Apa itu Tuhan?”.

[Lihat Trailer]

Jakarta International Film Festival yang terkenal dengan sebutan JifFest akan berkunjung ke Kota Makassar. Event film skala internasional ini tentunya akan membawa film-film berkualitas dari beberapa negara yang pastinya akan sulit kita tonton di bioskop-bioskop yang ada di Makassar bahkan di Jakarta.
Event ini akan diorganisir oleh Komunitas Film Rumah Ide Makassar. JifFest traveling Makassar ini akan diselenggarakan tanggal 11-13 Juni 2010 di Benteng Ford Rotterdam Makassar. Untuk info lebih lanjut silahkan hubungi Rumah Ide Makassar.
Kegiatan ini gratis dan akan diiringi dengan pameran budaya di sekitarnya.

Sutradara      :  Arfan Sabran

Produksi        :  JICA (CD Project)

Genre             :  Dokumenter

Durasi            :  11:59 min

Format           :  DVD

Kontak           :  JICA (CD-Project); Telp. 0411443618

Sinopsis        :

Puawang adalah nama sebuah desa di Kabupaten Majene Propinsi Sulawesi Barat yang masyarakatnya bercocok tanam di atas tanah bebatuan yang gersang. Tapi dengan semangat assirondo-rondoang (gotong royong) dan berorganisasi, mereka pun akhirnya mampu mengubah tanah bebatuan itu menjadi tanah yang subur untuk ditanami. Di sini kita dapat melihat bagaimana masyarakat, fasilitator, dan pemerintah dapat saling bahu membahu dalam membangun Desa Puawang ini.